Kamu Pernah Diberi Harapan Palsu oleh Seseorang? Yuk Baca Kisah Nyata Ini dan Kita Ambil Pelajarannya Bersama

"Hey semalam aku mimpi buruk. Aku mimpi bahwa aku sangat takut kehilanganmu. Aku sayang banget sama kamu."

PHP alias pemberi harapan palsu, siapakah dia? Kenapa seseorang bisa merasa diberi harapan oleh orang lain? Berikut cerita nyata seseorang yang merasa diberi harapan oleh orang lain.


Pada awalnya Andrew sedang berencana mencari seorang pacar. Kemudian sahabatnya bernama Edi berjanji untuk memperkenalkannya kepada seseorang yang cantik, pintar, dewasa yang pokoknya tipenya sekali. Perempuan ini bernama Gladys. Edi telah berulang kali mencoba untuk mempertemukan Andrew dengan Gladys, namun karena satu dan lain hal, mereka belum bertemu juga.

Suatu hari Edi memberi nomor handphone Gladys ke Andrew. Namun, Andrew merasa tidak etis jika mengontak terlebih dahulu. Katanya, "Gak papa deh bro, nanti aja tunggu timing-nya tepat pas bisa ketemuan aja."

Dua bulan telah berlalu, kemudian memasukki bulan Mei, Edi berencana untuk merayakan ulang tahunnya dimana ia akan mengundang Gladys. Kemudian ia menelepon Andrew untuk memberitahunya agar ia dapat datang supaya dapat berkenalan dengan Gladys secara langsung. Andrew pun dengan excited menjawab, "Oke boss, gua bisa datang."

Meanwhile, sebelum mereka bertemu, Edi telah bercerita banyak mengenai Andrew ke Gladys. Dikatakannya oleh Edi bahwa Andrew adalah sosok pria idaman yang ganteng, tinggi, sukses punya usaha sendiri. Gladys pun menjadi penasaran dan deg-degan dengan pribadi Andrew ini.

Karena Edi dan Andrew bersahabat, Edi pun menceritakan segala sesuatunya ke Andrew. Dikatakannya pada Andrew, "Bro, si Gladys bilang lo ganteng katanya, udeh lo ntar di ulang tahun gue kenalan aja ya." Ekspektasi Andrew pun meningkat, sebab dia telah jomblo selama 10 tahun. Kemudian Andrew mencoba browsing foto Gladys lewat media sosial dan ia menemukan bahwa Gladys ini tipenya sekali. "Pilihan sahabatnya ini memang nggak salah," pikirnya.

Tiba di hari ulang tahun Edi, Andrew datang lebih awal, Gladys belum datang. Ia sangat deg-degan, sesekali bertanya kepada Edi, "Eh yakin ya lo dia pas buat gue?" Edi menjawab, "Ya iya lah, gue tahu banget kok tipe lo kayak begitu.’

Singkat cerita, Andrew dan Gladys pun akhirnya berkenalan. Andrew begitu menyukai Gladys yang berwajah manis. Kemudian mereka memulai pembicaraan mulai dari sekolah dimana, kerja dimana, dan topik-topik lainnya. Ternyata Gladys dulu bersekolah di Paris. Alangkah kagetnya Andrew sebab ia adalah seorang francophile yang belajar bahasa Perancis sejak tahun 2013.

Andrew pikir Gladys bersekolah di sekolah yang menggunakkan bahasa Inggris di Paris, ternyata ia bersekolah yang menggunakkan bahasa Perancis sebagai bahasa pengantar. Andrew pun makin tertarik dan terpesona dengan Gladys. Mereka berdua kemudian melanjutkan pembicaraan dalam bahasa Perancis hingga larut, sampai Edi pun menegur mereka. Namun mereka tidak peduli dengan yang lainnya, seakan-akan mereka larut dalam chemistry cinta yang membuat mereka sangat fokus satu sama lain.

Sehabis dari acara ulang tahun Edi, sesampainya di rumah, Andrew mengirim Whatsapp message ke Gladys, "Hey it was really nice to see you, I hope you are home safely." Gladys pun menjawab "Hey, yes, it was nice to meet you as well. Yes, I am home." Di benak Andrew, dalam beberapa hari ini, kalau ditembak, Gladys pun pasti mau menerimanya. Dia pun merasa sangat percaya diri.

Dalam beberapa hari kemudian, Andrew pun mengajak Gladys keluar. Mereka pergi ngopi di coffee shop di Jakarta Selatan. Mereka membahas banyak hal. Gladys pun menceritakan tentang keluarganya dan demikian juga Andrew. Pembicaraan dengan Gladys selalu dirasakan oleh Andrew begitu hangat, intimate. Ia merasa Gladys begitu terbuka dengannya. Andrew pun merasa senang karena ia merasa dapat dipercaya.

Selama kurang lebih 3 kali Andrew bertemu muka dengan Gladys. Mereka pun cukup rutin berhubunan melalui telepon maupun saling kirim pesan singkat dalam kurun waktu sepuluh hari. Mereka saling menyapa ‘Good morning’ setiap paginya dan juga ketika malam sebelum tidur, mereka berbalas-balasan pesan singkat hingga larut. Momen-momen yang dirasakan sangat indah bagi Andrew.

Andrew selalu bertanya ke Edi mengenai Gladys. Ia penasaran apakah Gladys bercerita sesuatu mengenainya. Edi bercerita bahwa Gladys sangat tertarik dengan Andrew. Menurut Edi, Gladys bilang bahwa Andrew adalah lelaki yang baik dan tipenya sekali. Hanya saya ia tak mau terburu-buru untuk memutuskan hubungan ke jenjang yang lebih jauh. Andrew makin merasa senang karena ia merasa apa yang dilaluinya dengan Gladys tidak sia-sia. Chemistry di antara mereka sudah saling terjalin. Apalagi soal kualitas dan kecocokan yang tidak perlu diragukan lagi di antara keduanya, menurut Andrew, yaitu sama-sama pengusaha dan bisa berbahasa Perancis.

Namun, di sinilah letak kesalahan Andrew. Ia tidak mengindahkan kalimat terakhir yang dikatakan oleh Edi bahwa Gladys belum mau buru-buru melangkah ke jenjang hubungan yang lebih dalam. Menurut Andrew, asalkan Gladys sudah dapat chemistrynya, then everything should be okay.

Sebelas hari setelah acara ulang tahun Edi dimana mereka bertemu, Gladys harus terbang ke Bali selama 10 hari untuk sebuah acara pernikahan saudaranya. Gladys punya ketakutan untuk terbang, ia pun menceritakannya ke Andrew. Andrew yang merasa sudah sayang pada Gladys pun mencoba menenangkannya dengan mengakses ke website sejenis BMKG untuk melihat kondisi cuaca di langit pulau Jawa dan membagi informasi bahwa cuaca akan baik-baik saja hari itu pada Gladys. Gladys pun sangat mengapresiasi usaha yang dilakukan oleh Andrew.

Pada hari keberangkatan Gladys ke Bali, Andrew menawarkan diri untuk menjemput Gladys ke bandara. Gladys pun menyambut baik. Dengan penuh semangat, Andrew merasa sekarang mengerti arti kekuatan sebuah cinta sebab ia merasa rela berkorban untuk seseorang dengan menyetir berjam-jam untuk bertemu seseorang. Gladys pun bahagia ketika tahu Andrew menjemputnya. Andrew pun pulang dengan kebahagiaan, perasaan cinta yang dirasakannya semakin dalam terhadap Gladys.

Sampai suatu hari Andrew menyatakan perasaannya kepada Gladys bahwa ia sayang Gladys. Kala itu Andrew sedang agak ketakutan karena Gladys sedang tidak berada di Jakarta, sehingga ia rindu dan mengalami mimpi buruk. Ketika ia bangun, ia segera menghubungi Gladys dan berkata, "Hey semalam aku mimpi buruk. Aku mimpi bahwa aku sangat takut kehilanganmu. Aku sayang banget sama kamu."

Kata ‘sayang’ yang diucapkan oleh Andrew ternyata dianggap sakral bagi Gladys. Gladys merasa Andrew terlalu cepat mengucapkan kata sayang. Pandangan Gladys pun sedikit berubah terhadap Andrew. Edi pun menasihati Andrew agar jangan terlalu cepat mengungkapkan rasa sayang. Konflik pertama pun terjadi antara Andrew dan Gladys.

Sampai tiba satu waktu, Andrew dan Gladys berencana untuk makan malam bersama. Namun, Andrew merasa bahwa Gladys sedikit berubah dan lebih dingin. Ia merasa apa ada ucapannya yang salah beberapa waktu lalu. Lalu Andrew menanyakan sekali lagi ke Gladys apakah iia sudah memutuskan atau belum. Gladys pun heran, "Memutuskan apa ya?" Andrew menjawab, "Yaa aku nggak mau segala perhatian dan waktu yang aku udah kasih ke kamu bakal jadi sia-sia. I’m so afraid to lose you." Saat itu pun Gladys langsung terdiam dan akhirnya mendiamkan Andrew selama beberapa hari.

Andrew yang penasaran dengan Gladys, mengubunginya melalui Whatsapp message. Ia meminta maaf jika telah berkata sesuatu yang membuatnya tidak nyaman dan menawarkan diri untuk mendiskusikannya bersama. Andrew pun berkata bahwa memang itulah personality-nya, menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan apa yang ada di benak pikirannya dan hatinya.

Namun alangkah menyedihkannya karena Gladys yang entah sudah seperti tak tertarik padanya. Ia menjawab pesan Andrew dengan menjelaskan bahwa Andrew adalah sosok seorang lelaki yang sangat baik hati, namun ia hanya ingin mereka berteman saja. Alasan yang dikatakan adalah bahwa ia melihat harapan Andrew yang jauh melebihi apa yang ada pada hati Gladys. Gladys pun meminta maaf atas keputusannya itu.

Andrew pun berusaha memahami keputusan yang sudah dibuat oleh Gladys. Romansa keduanya yang baru berlangsung kurang dari sebulan pun berakhir dengan hanya sebuah pesan singkat. Tidak ada pertemuan, percakapan telepon, atau apapun setelah itu di antara keduanya.

Andrew merasa dirinya hanya diberi harapan palsu.

Di tengah-tengah rasa sedihnya, Andrew pun menyimpan rasa kecewa pada Gladys. Mengapa selama ini perhatiannya diterimanya dengan sangat hangat. Rasa kasihnya bagaikan disambut hangat dan mesra oleh Gladys. Tetapi, ketika dirinya ingin mengajaknya untu berhubungan lebih jauh, Gladys pun justru menolaknya dan mundur menjauhinya. Mengapa? Ia pun sangat kecewa.

Tapi. Andrew tak menyesal telah mengenal Gladys. Baginya, kejadian dan kisah ini mendewasakannya. Memberikan pelajaran lain tentang kehidupan. Seperti:

1) Always guard your heart. Meskipun Andrew merasa bahwa ia telah mendapatkan chemistry yang tepat dengan Gladys, tetap tidak ada jaminan bahwa rasa Gladys sejalan dengan apa yang dirasakannya. Mungkin Andrew telah terbawa suasana euforia cinta yang membuatnya lupa bahwa ia harus tetap menjaga hatinya sendiri.

2) Setiap orang memilikki ekspektasi yang berbeda-beda. Mungkin Andrew di satu sisi telah yakin betul dengan Gladys dan ia bersedia untuk berkomitmen, namun di lain sisi Gladys belum tentu juga berpikir demikian. Bisa jadi perasaan Gladys hanya sampai pada tahap tertarik padanya. Namun, ketika diminta berkomitmen, ia merasa belum siap.

3) Menjadi orang baik dan caring tidak serta merta membuat orang dapat mencintai kita balik. Kadang kala kita merasa telah menjadi orang yang paling baik dan caring bagi seseorang. Kita berharap bahwa orang itu dapat mencintai kita juga. Cinta memang unik. Kita dapat mencintai seseorang tanpa orang itu memberi apa-apa pada kita. Namun sebaliknya, sekalipun kita memberikan dunia baginya, tidak ada jaminan bahwa seseorang itu akan serta merta mencintai kita juga.

Namun, di lain sisi, dirasakan oleh Edi bahwa Gladys sebenarnya adalah orang yang baik. Namun setelah ia curhat ke Edi mengenai Andrew, Edi merasa Gladys juga memilikki masalah dengan hal mengambil keputusan. Gladys yang lebih muda 2 tahun dari Andrew terkadang masih labil dan bingung untuk menentukan arah hidup.Mungkin Gladys pun bisa belajar hal-hal berikut:

1) Belajar untuk mengambil keputusan. Cinta memang diawali dengan perasaan suka. Namun untuk berkomitmen dalam menjalin hubungan dengan seseorang, dibutuhkan sebuah keputusan dan membuat keputusan diperlukan kedewasaan dalam cara berpikir. Di tahap ini, Andrew lebih yakin dengan objektifitas hubungannya dengan Gladys, sedangkan Gladys tidak.

2) Jangan mempermainkan hati orang lain. Edi merasakan bahwa Gladys sepatutnya tidak memainkan hati Andrew. Terkadang Gladys merasa ingin diperhatikan oleh Andrew. Namun ketika Andrew memberikannya, Gladys malah ingin menarik diri. Andrew pun dibuatnya bingung dan merasa diberi harapan palsu. Kalau memang Gladys tidak siap untuk berkomitmen dengan Andrew, sepatutnya Gladys berkata yang sesungguhnya saja walaupun kedengarannya pahit. Akan tetapi lebih baik pahit di awal.

Bagaimana menurutmu dari cerita Andrew dan Gladys? Benarkah Gladys yang memberi harapan palsu pada Andrew? Atau Andrew yang terlalu percaya diri?